Rabu, 16 Maret 2011

tsunamii

A destroyed town in Sumatra after being hit by a tsunami, caused by the 2004 Indian Ocean earthquake.
A tsunami (Japanese: 津波, lit. "harbor wave";[1] Japanese pronunciation: [tsɯnami]; English pronunciation: /tsuːˈnɑːmi/ tsoo-NAH-mee or /suːˈnɑːmi/ soo-NAH-mee[2]) is a series of water waves (also called a tsunami wave train[3]) caused by the displacement of a large volume of a body of water, usually an ocean, though it can occur in large lakes. Tsunamis are a frequent occurrence in Japan; approximately 195 events have been recorded.[4] Owing to the immense volumes of water and the high energy involved, tsunamis can devastate coastal regions.
Earthquakes, volcanic eruptions and other underwater explosions (including detonations of underwater nuclear devices), landslides and other mass movements, meteorite ocean impacts or similar impact events, and other disturbances above or below water all have the potential to generate a tsunami.
The Greek historian Thucydides was the first to relate tsunami to submarine earthquakes,[5][6] but the understanding of a tsunami's nature remained slim until the 20th century and is the subject of ongoing research. Many early geological, geographical, and oceanographic texts refer to tsunamis as "seismic sea waves."
Some meteorological conditions, such as deep depressions that cause tropical cyclones, can generate a storm surge, called a meteotsunami, which can raise tides several metres above normal levels. The displacement comes from low atmospheric pressure within the centre of the depression. As these storm surges reach shore, they may resemble (though are not) tsunamis, inundating vast areas of land.
video

Tsunami: the Great Waves

video
Presented by

U.S. Department of Commerce
National Oceanic and Atmospheric Administration
National Weather Service
Intergovernmerntal Oceanographic Commission
International Tsunami Information Center


The purpose of this brochure is to increase awareness and knowledge of tsunamis. Please share what you learn; knowing the right information may save your life and the lives of those you love.

The phenomenon we call "tsunami" (soo-NAH-mee) is a series of traveling ocean waves of extremely long length generated by disturbances associated primarily with earthquakes occurring below or near the ocean floor. Underwater volcanic eruptions and landslides can also generate tsunamis. In the deep ocean, their length from wave crest to wave crest may be a hundred miles or more but with a wave height of only a few feet or less. They cannot be felt aboard ships nor can they be seen from the air in the open ocean. In deep water, the waves may reach speeds exceeding 500 miles per hour.

Photo of a building destroyed by a tsunami

Tsunamis are a threat to life and property to anyone living near the ocean. For example, in 1992 and 1993 over 2,000 people were killed by tsunamis occurring in Nicaragua, Indonesia and Japan. Property damage was nearly one billion dollars. The 1960 Chile Earthquake generated a Pacific-wide tsunami that caused widespread death and destruction in Chile, Hawaii, Japan and other areas in the Pacific. Large tsunamis have been known to rise over 100 feet, while tsunamis 10 to 20 feet high can be very destructive and cause many deaths and injuries.

The Tsunami Warning System (TWS) in the Pacific, comprised of 26 participating international Member States, monitors seismological and tidal stations throughout the Pacific Basin. The System evaluates potentially tsunamigenic earthquakes and disseminates tsunami warning information. The Pacific Tsunami Warning Center (PTWC) is the operational center of the Pacific TWS. Located in Honolulu, Hawaii, PTWC provides tsunami warning information to national authorities in the Pacific Basin.

45 plus Aussies in worst quake zone


Embassy officials in Japan are trying to contact at least 45 Australians known to be in the hardest hit zone.

"What of course we know is there will be more Australians there than the 45 who are registered - we don't know the total number at this stage," Prime Minister Julia Gillard told reporters.

"The ambassador will be doing everything he can to get in contact with Australians and ascertain their safety and welfare."

The prime minister said the level of assistance had yet to be determined but could include search and rescue experts, hospital and medical aid and police reserves, similar to that provided recently to New Zealand.

"We don't know the full scale of the devastation but it is really very apparent the Japanese people have been dealt an incredibly cruel blow by this earthquake and the tsunami following it," she said.

Start of sidebar. Skip to end of sidebar.
Related Coverage

* Radiation levels from plant fall The Daily Telegraph, 1 day ago
* Quake and nuclear crisis: how it happened NEWS.com.au, 1 day ago
* Power outages begin in Tokyo area NEWS.com.au, 1 day ago
* New tsunami warning cancelled NEWS.com.au, 2 days ago
* Japan disaster - Tokyo Courier Mail, 2 days ago

End of sidebar. Return to start of sidebar.
make your own news service on igoogle

She said members of parliament visiting Tokyo, including Stuart Robert, Stephen Jones, Amanda Rishworth, Senator Michaelia Cash and Natalie Hutchins, were safe and well.

The group was travelling on the bullet train from Kyoto and Osaka in the south when the quake hit and they were trapped on the halted train for hours.

After the train began moving, Mr Robert reported that the MPs planned to disembark in Tokyo and walk about three kilometres to the Australian embassy.

He said the streets of Tokyo were packed with people walking home and bumper-to-bumper cars.

"Tokyo is awash with people walking, trying to get home, completely awash with them," he said.

He said the group got off at Shinagawa station.

Meanwhile, Qantas has delayed three overnight flights following the quake, due to Tokyo's Narita airport closing.

QF22 Tokyo to Sydney was due to leave Tokyo at 8pm (local time, 1800 AEDT), but has been delayed until 7pm (local time) on Saturday.

QF21 Sydney to Tokyo was due to depart Sydney at 10pm (AEDT) on Friday, will now depart Sydney at 10am (AEDT) on Saturday.

QF79 Perth to Tokyo was due to depart at 10pm on Friday (WST), but has been rescheduled to depart at 7.50am (WST).

Read more: http://www.news.com.au/world/at-least-45-austs-in-worst-quake-zone/story-fn6sb9br-1226020165567#ixzz1GkocFc5U

Kawanan bintang yang membantu hancurnya galaksi

Dari penelitian terbaru, terungkap bahwa struktur bintang-bintang berbentuk garis yang membentang di tengah sejumlah galaksi berbentuk spiral, termasuk galaksi kita, Bima Sakti, berpotensi memainkan peran penting dalam kehancuran galaksi tersebut. Peneliti menemukan, galaksi spiral, galaksi di mana pembentukan bintang-bintang baru telah berhenti, memiliki kemungkinan dua kali lipat lebih banyak untuk memiliki ‘garis tengah’ dibandingkan dengan galaksi yang masih aktif melahirkan bintang baru.


‘Garis tengah’ tersebut merupakan formasi berukuran besar dari bintang-bintang yang berderet membentuk garis. Karen Masters, ketua peneliti dari University of Portsmouth, Inggris, menyebutkan, barisan bintang-bintang ini memegang peranan penting dari evolusi galaksi. Alasannya adalah, mereka menyediakan jalan untuk memindahkan material keluar masuk piringan spiral galaksi.


Ada kemungkinan pula, barisan ini memicu formasi bintang-bintang di kawasan tengah. Seperti dikutip dari Space, 11 November 2010, dalam laporannya Masters menyebutkan, barisan tersebut juga bahkan membantu mamasok umpan pada black hole raksasa yang ada di bagian tengah galaksi yang tampaknya hadir di seluruh galaksi.

Sebagai informasi, black hole merupakan fenomena gravitasi berukuran sangat raksasa yang dapat menghisap benda-benda di sekelilingnya. “Meski demikian, kami belum memahami mengapa beberapa galaksi memiliki garis dan galaksi lainnya tidak,” ucap Masters.


Belum diketahui juga apakah barisan bintang-bintang itu menyebabkan galaksi berhenti membentuk bintang-bintang baru ataukah berhentinya pembentukan bintang merupakan efek samping dari proses lain yang belum diketahu

Astrofisikawan: Bintang Bisa Bernyanyi


Sejak lama bintang di langit telah memikat mata manusia dengan bentuk dan kerlipnya. Tapi, tahukah Anda, bintang ternyata bisa 'menyanyi'.

Ini adalah temuan para astrofisikawan dari University of Birmingham dan sejumlah ilmuwan NASA. Nyanyian bintang mereka tangkap ketika mengukur perubahan kerlip Bintang KIC 11026764 atau yang juga dikenal dengan nama 'Gemma'. Bintang ini besarnya sekitar dua kali lipat Matahari.

Para ilmuwan menemukan, bintang yang berjarak 3.100 triliun mil dari Bumi bisa bergetar seperti instrumen
musik. Getaran ini disebabkan proses mirip gempa atau 'starquake' -- yang beresonansi dari permukaan ke inti bintang.

Menggunakan teknik yang disebut astroseismologi, para ilmuwan mampu mendeteksi kerlip itu dan merekonstruksi suara yang dihasilkannya.

Hasilnya, adalah dengung yang harmonis yang terdengar seperti hembusan angin tipis di atas mikrofon. Bukan sembarang nyanyian, menurut Dr Bill Chaplin, seorang asteroseismolog di Birmingham University, ini menguak informasi baru yang berharga tentang struktur internal bintang.

Getaran ini membantu para astronom mempelajari lebih lanjut ukuran, umur, dan komposisi bintang lainnnya.

"Pada dasarnya bintang beresonansi seperti halnya instrumen musik raksasa. Secara alami, bintang mengeluarkan suara, namun kita tak bisa mendengarnya, kecuali pergi ke luar angkasa mendekatinya," kata Chaplin, seperti dimuat situs Telegraph.

Mengapa bintang bisa bersuara? Dijelaskan Chaplin, ini karena bintang tak terbentuk secara solid hingga inti. "Ini membuat bintang bergetar. Meski tak mendengar dari Bumi, kita bisa mendeteksinya secara visual dari kerlipnya. Dan merekonstruksinya menjadi suara," tambah Chaplin.

Dr Chaplin bekerja dengan tim ilmuwan internasional yang menggunakan data yang ditangkap oleh teleskop Kepler milik NASA.

Dari kerlip bintang bisa dipelajari bahwa, mirip perbandingan biola dan cello -- makin besar bintang maka makin rendah frekuensi getarannya. Ini untuk mengetahui ukuran bintang.

Sementara untuk materi pembentuk bintang, ilmuwan berpatok pada prinsip, gelombang suara yang melalui inti helium padat akan lebih cepat daripada hidrogen. Getaran kemudian mempengaruhi cahaya yang dilepaskan oleh bintang.

Melakukan pengukuran jenis ini, para ilmuwan berhasil mengkalkulasi bahwa Bintang Gemma berusia lebih dari 5,94 miliar tahun -- atau semiliar tahun lebih tua dari Matahari.

Gemma terus tumbuh hingga menjadi bola raksasa dan sedang memasuki masa-masa akhir hidupnya.

Para ilmuwan juga menemukan bahwa Gemma memiliki inti yang terdiri sebagian besar helium yang dikelilingi oleh kulit tipis di mana berlangsung reaksi fusi hidrogen yang jadi sumber kekuatannya.

Untuk mendengarkan suara dari bintang bisa di dengar di http://www.telegraph.co.uk/science/science-video/8113235/Listen-to-sound-made-by-stars.html

Peneliti menemukan mahluk tanpa "OKSIGEN"

Sekelompok peneliti laut dalam asal Italia dan Denmark menemukan hewan multiseluler yang melangsungkan seluruh hidupnya tanpa menghirup oksigen.

Kelompok peneliti itu menemukan tiga spesies Loricifera (hewan serupa ubur-ubur berukuran panjang kurang dari satu milimeter) di endapan cekungan L’Atalante, sebuah kawasan perairan asin tak beroksigen di kedalaman 3000 meter, dasar laut Mediterrania, atau laut tengah.

Ketika Antonio Pusceddu, peneliti dari Marche Polytechnic University, Italia, dan rekan-rekannya menemukan Loricifera tersebut, mereka memperkirakan bahwa hewan itu jatuh ke dasar laut setelah hewan itu mati.

“Kami kira sangatlah tidak mungkin mereka bisa hidup di sana,” kata Pusceddu, seperti dikutip dari Discovermagazine, 27 Desember 2010. Akan tetapi, dari uji coba yang dilakukan pada dua ekspedisi berikutnya, diketahui bahwa hewan yang ditemukan itu masih hidup.
Pusceddu menyebutkan, Loricifera memiliki cara adaptasi yang unik terhadap lingkungan bebas oksigen.

Hewan ini tidak memiliki mitochondria (sel yang mampu mengonversi oksigen menjadi energi seperti yang ada di seluruh sel hewan lainnya). Akan tetapi mereka menggunakan struktur yang menyerupai hydrogenosom, organ yang menggunakan mikroba untuk menghasilkan energi.

Yang menarik, temuan ini membuka kemungkinan adanya kehidupan hewan yang lebih kompleks di lingkungan keras bebas oksigen lainnya. Baik di Bumi ataupun di tempat-tempat lain.